Punch (2011/South Korea)


Kalau ada yang menyebut film-film coming of age, pasti tidak jauh-jauh dari urusan cinta belaka. Memang tidak sepenuhnya salah, tetapi jika terus-terusan hanya itu saja yang diangkat tentu membosankan.

Sebenarnya tergantung bagaimana menceritakan hal itu. Di atas kertas kisah remaja pria pemalu dan aneh jatuh cinta pada seorang remaja putri tentu bukan hal baru, namun Submarine (2010) dari Richard Ayoade bisa menyajikan dengan sudut pandang yang unik.

Atau The Breakfast Club (1985) yang karakternya sangat klise namun ceritanya menarik.

What if I told you bahwa masalah remaja bukan hanya sekadar mencari pujaan hati diiringi lagu menye-menye?

Dalam Punch, tengilnya anak SMA sangat pas dibawa oleh Yoo Ah-in sebagai Do Wan-deuk, seorang siswa SMA dari keluarga miskin. Tidak hanya itu, ayahnya adalah seorang pria bungkuk yang bekerja sebagai badut jalanan.

Punch

Wan-deuk bertetangga dengan gurunya sendiri, Lee Dong-ju (Kim Yoon-seok), seorang guru ceplas ceplos yang pintar. Wan-deuk yang gemar berkelahi kemudian diarahkan oleh Lee ke kursus kickboxing, kemudian sang guru juga mengajak ibu Wan-deuk untuk bertemu. Padahal sang ibu sudah lama tidak hadir dalam hidup Wan-deuk.

Ternyata ibunya adalah seorang imigran asal Filipina. Sebuah kejutan sebab sangat jarang ada orang Korea menikah dengan non-Korea. Maka sang guru dan murid menjalani hubungan benci tapi rindu ala ala Betharia Sonata.

Ini bukan kisah menguras air mata dan pamer kemiskinan ala-ala sinetron, namun sebuah kisah yang akan membuat tersenyum, memotret kenyataan bahwa di Korea Selatan yang katanya maju, masih ada yang miskin serta masih ada “diskriminasi” perlakuan terhadap imigran.

Film ini tidak berujung Wan-deuk menang kejuaraan Kickboxing dengan cucuran air mata, atau tragis, atau mendapatkan cinta Ha Ji Won di Pulau Jeju, atau tiba-tiba ketiban duit 200 juta won, tetapi menceritakan perubahan karakter dan kehidupan Wan-deuk, dari remaja sembrono, menjadi semakin “dewasa” karena orang-orang dan kejadian di sekitarnya.

Punch memperkenalkan masyarakat Korea yang berbeda, yang nyata dan tidak penuh wajah-wajah kinclong superfisial penjual mimpi di siang bolong. Hebatnya, film ini ditonton lima juta penonton ketika rilis domestik dan disukai banyak orang. Tidak heran, sebab film yang berjudul asli Wandeuki ini memang berdasar sebuah buku non fiksi berjudul sama yang juga laris.

Punch

3 thoughts on “Punch (2011/South Korea)

  1. Pingback: Hwayi: A Monster Boy (2013/South Korea) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s