Jagal/The Act of Killing (2012/Denmark)


The truth or...

The bloody truth or…

Mungkin saya termasuk golongan yang telat untuk menyaksikan film dokumenter yang katanya film dokumenter paling shocking tahun ini, apalagi kalau bukan Jagal alias The Act of Killing buah karya sutradara kelahiran Amerika yang kini tinggal di Eropa, Joshua Oppenheimer. Yang lebih shocking lagi tentunya adalah apa sih yang sebenarnya diulas di film yang peredarannya dilarang di Indonesia ini? Jawabannya sederhana, yaitu sejarah kelam negara tercinta kita. Tapi sebelum saya mulai mengobrol soal Jagal, bagi anda yang sudah mulai penasaran dengan film dokumenter ini bisa mengunduh langsung di situs resminya actofkilling.com (sudah versi director’s cut). Karena sebelumnya saya sudah mengunduh filenya berbulan-bulan lalu lewat torrent, tapi kabar yang beredar bahwa film ini memang ada yang versi director’s cut, oleh karena itu saya baru kesampaian menonton filmnya belakangan ini. Ingat, yang versi director’s cut durasinya sekitar 158 menit, durasi yang lumayan panjang bukan untuk sebuah film dokumenter yang ‘berdarah-darah’.

Siapa sih yang tidak tahu PKI, apalagi anda yang lahir dan besar di Indonesia sambil menonton film pemberontakan G30S-PKI di televisi setiap tanggal 30 September pasti sudah hafal betul dengan partai komunis yang satu ini. Tapi ada sedikit cerita dibalik pemberantasan PKI waktu itu, yaitu pemberantasan yang dilakukan oleh organisasi massa Pemuda Pancasila, yang katanya mereka lebih keji dari PKI itu sendiri. Maka Joshua Oppenheimer mengajak kita untuk berkenalan dengan para ‘sesepuh’ Pemuda Pancasila yang doyan menghabisi para korbannya yang diduga PKI sekitar 50 tahun silam, yaitu Anwar Congo dan Herman Koto, mantan algojo Pemuda Pancasila di Sumatera Utara, dan dengan senang hati para ‘sesepuh’ tersebut me-reka ulang cara-cara menghabisi korbannya yang diduga antek-antek PKI, tidak pandang bulu, entah itu cendekiawan, muslim, hingga etnis tionghoa sekalipun.

Uniknya, Joshua Oppenheimer memberikan kebebasan bagi Anwar Congo, Herman Koto dkk untuk me-reka ulang kejadian tahun 1965 tersebut, baik itu dengan gaya film-film gansgter klasik ala Amerika sampai gaya film musikal surreal sekalipun. Penuturan satu persatu para mantan algojo ini makin membuka mata saya bahwa Indonesia itu memang negara preman. Ya, preman adalah kata kunci di film ini karena Anwar Congo dkk menjadikan kata tersebut sebagai justifikasi terhadap tindakan yang mereka lakukan. Ironisnya adalah bahwa dunia sinema juga yang mengenalkan Anwar Congo dkk untuk menjadi seorang preman. Berawal dari tukang pencatut tiket di bioskop lokal, sampai wabah komunis datang ke Indonesia sehingga menyebabkan bioskop makin sepi karena tidak bisa memutar film-film luar negeri, maka Anwar Congo dkk direkrut Pemuda Pancasila untuk memberantas wabah komunis di Indonesia sampai akhirnya difilmkan lagi oleh Joshua Oppenheimer.

Bagian ter-brutalnya adalah ketika Anwar Congo dkk bercerita bagaimana mereka menghabisi para korbannya, dengan memperlihatkan ‘senjata’ kesukaannya untuk mencekik korban, mereka menuturkan semuanya tanpa terlihat sedikitpun rasa penyesalan. Apalagi ada beberapa metode untuk menghabisi korban-korbannya sambil bersenandung lagu-lagu nasional Indonesia, seperti Halo-Halo Bandung yang dinyanyikan ketika mereka mencekik korban yang ditindih meja yang diduduki rekan-rekan Anwar Congo.

Beda dengan Anwar Congo yang masih mempertanyakan aksinya dahulu, rekan sejawatnya, Adi Zulkadry tidak pernah merasakan yang namanya menyesal karena telah membantai para komunis di Indonesia. Adi dengan gamblang menjawab tidak takut dengan perbuatan yang dilakukannya, karena ia dan rekan-rekannya melakukan hal yang benar, dan siapapun yang menang perang tidak mungkin disebut bersalah.

Jagal berhasil memberikan perspektif lain bagi saya untuk melihat peristiwa pemberontakan PKI, entah versi siapa yang benar, tapi saya rasa sampai nanti pun negara ini masih akan dikuasai oleh para preman. Terbukti dari beberapa petinggi yang ikut menyuarakan pendapatnya di film ini, dari mulai pejabat-pejabat pemerintahan Medan, pemimpin Medan Pos, Ibrahim Sinik, pemimpin Pemuda Pancasila yang namanya sudah tidak asing lagi, Yapto, sampai mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berkali-kali mendefinisikan arti kata preman (free-man).

Ada rasa merinding ketika menyaksikan film dokumenter yang katanya butuh tujuh tahun untuk pengerjaannya ini. Tapi ada juga rasa iba ketika melihat Anwar Congo yang lambat laun sampai klimaks film dokumenter ini seperti mulai menyesali apa yang dilakukannya dahulu. Ketika di awal sangat berapi-api menjelaskan bagaimana heroiknya ia dan kawan-kawannya ketika itu, tapi di akhir ada momen-momen ‘bisu’ dimana Anwar Congo hanya bisa termangu ketika menonton film reka ulang pembantaiannya yang ikut ditonton juga oleh anak cucunya.

Sebuah momen kontemplasi untuk bangsa ini, salut untuk kepiawaian Joshua Oppenheimer menangkap ekspresi dari para mantan algojo ini sambil memperlihatkan keadaan sekarang yang sama sekali tidak jauh berbeda, penuh dengan kekerasan, pemerasan dan tekanan untuk kaum-kaum tertentu dimana-mana. Seperti ekspresi shock Anwar Congo ketika kembali lagi ke tempat ia biasa menghabisi korban-korbannya di penghujung film juga ekspresi dingin Adi Zulkadry yang sedang jalan-jalan di mall bersama istri dan putrinya yang cantik. Tidak usah jauh-jauh untuk tahu detail peristiwa Holocaust yang pernah dilakukan Nazi, pemberantasan PKI oleh para algojo Pemuda Pancasila ini juga sudah cukup membuat bulu kuduk merinding, apalagi ketika melihat kenyataan bahwa para pelaku sejarahnya masih beraktivitas seperti biasa karena masih tetap dalam lindungan pihak-pihak tertentu.

Well, siapa yang benar dan siapa yang salah? Anda cari tahu jawabannya sendiri ketika menonton film ini. Must a SEE documentary of the year, well done Joshua Oppenheimer, well fucking done!

Rating: 5/5

5 comments

  1. Baru nyadar ternyata filmnya bisa diunduh gratisan, dan resmi! Malah download dr torrent dan itupun yg durasi 2.5 jam -_-

    Like this

    1. Haha, emang bisa didonlod lgs dari situsnya, dan emang durasi director’s cut-nya yg 2.5jam kok ;)

      Like this

  2. Mau lihat ini kok rasanya males banget….. :(

    Like this

    1. Dikumpulkan aja moodnya, gak akan nyesel kok ;)

      Like this

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,298 other followers

%d bloggers like this: