Before Midnight (2013/US)


This is LIFE...

This is LIFE…

Tahukah anda, tahun 2013 bagi saya pribadi adalah tahun yang menyuguhkan banyak film yang sesuai dengan harapan saya, bahkan beberapa diantaranya melebihi ekspektasi saya. Jika sebelumnya saya girang keterlaluan karena Alfonso Cuarón berhasil ‘come back’ dengan film sci-fi-nya yang berhasil membuat saya ‘jaw dropping’, sekarang giliran Richard Linklater yang berhasil membombardir saya dengan sekuel kedua dari film romantis legendaris yang sudah berjalan selama hampir dua dekade, apalagi kalau bukan Before Midnight.

Setelah sebelumnya saya mengajak anda untuk mengenang momen-momen manis di Before Sunrise dan Before Sunset, kali ini saya akan mengajak anda untuk ‘menyembah’ sineas yang masih saja membuat saya bergidik dengan cerita drama romantis minimalisnya yang memukau. Saya tidak bercanda ketika mengatakan anda harus ‘menyembah’ Richard Linklater, Ethan Hawke dan Julie Delpy, karena jujur, dapat dibilang Before Midnight berhasil melampaui kedua filmnya yang terdahulu, baik itu dari segi akting maupun segi penulisan. Before Midnight wajib menjadi film drama romantis terbaik versi saya tahun ini! Daya magisnya tidak hilang, malah makin menyihir dan mengajak saya masuk kedalam kehidupan Jesse dan Celine yang somehow terlihat complicated tapi manis di akhir.

Sebenarnya film ini sudah ‘leak’ beberapa bulan yang lalu, tapi saya bersabar demi mendapat bajakan yang lebih ‘sempurna’ (alias bluray rip) dan tentunya subtitle yang lebih mantap, karena jujur saya masih amatir menonton film luar tanpa subtitle yang sempurna apalagi kalau filmnya bermain banyak dialog seperti yang dilakukan ‘Before trilogy’ ini. So, penantian tersebut terbayar sudah, Before Midnight berhasil melampaui ekspektasi saya, dan kalau anda sudah mengikuti dua filmnya terdahulu, sangat bodoh jika sampai melewatkan Before Midnight ini.

Lalu apa yang terjadi pada Jesse (Ethan Hawke) dan Celine (Julie Delpy) sembilan tahun kemudian setelah pertemuan mereka yang benar-benar ‘nanggung’ di Paris? Jawabannya adalah, sekarang mereka sah menjadi seorang suami istri, dan dikaruniai dua gadis kembar yang lucunya minta ampun, ha-ha. Well, hidup mereka tampak bahagia, dan cerita memang dibuka ketika Jesse sedang mengantarkan anak laki-laki dari pernikahan pertamanya sebelum bertemu Celine di Paris, Hank (Seamus Davey-Fitzpatrick) untuk pulang kembali ke Amerika. Ya, Hank baru saja mengunjungi Jesse dan Celine yang kebetulan sedang berlibur di Yunani karena ajakan seorang teman penulis Jesse, Patrick (Walter Lassally). So, tidak seperti dua film sebelumnya, sekarang anda akan melihat banyak interaksi antara Jesse dan Celine dengan keluarga lain di Yunani sembari mengevaluasi apa yang telah dicapai selama sembilan tahun pernikahan mereka.

Sedikit trivia adalah, sekarang saya tahu apa yang terjadi di ending Before Sunset ketika menonton Before Midnight ini. Jesse dan Celine bercinta (berkali-kali, ha-ha) berdasarkan buku kedua yang ditulis oleh Jesse (masih ingat dengan buku pertama yang ditulis oleh Jesse di Before Sunset?). Ya, karir Jesse terus menanjak karena berhasil membuat dua buku best selling yang didasarkan pada kehidupan pribadinya, sementara Celine ternyata benar-benar bekerja di bidang kemanusiaan setelah di Before Sunset ia banyak berceloteh soal kehidupan sosial, politik dan kemanusiaan di muka bumi ini. Tapi ada yang mengganjal, yaitu ketika Jesse harus berpisah dengan Hank, ia berpikir bahwa dirinya bukan ayah yang baik, karena tidak bisa selalu berada di samping Hank ketika masa pertumbuhannya yang krusial, tapi Celine menganggap itu adalah permintaan secara ‘halus’ Jesse untuk mengajaknya pindah kembali ke Amerika. Maka dari obrolan ringan tersebut, Jesse dan Celine saling tukar pikiran sampai berdebat apakah di umur pernikahan mereka yang kesembilan itu, mereka sudah menjadi seorang pasangan yang bahagia atau belum?

Dari awal sampai akhir, walau penuh dengan yang namanya perdebatan, saya jamin anda akan tetap tersenyum menonton film yang durasinya sekarang membengkak hampir dua jam ini. Tapi percayalah, ‘magical moment’-nya masih ada disitu. Saya tidak berhenti tersenyum dan kadang tertawa ketika melihat pertikaian Jesse dan Celine yang tak ubahnya seperti pasangan-pasangan di dunia nyata pada umumnya. Memegang pakem seperti dua filmnya terdahulu, Before Midnight tetap tampil apa adanya, cerita romantis yang membumi, realistis dan terkadang pahit adalah sesuatu yang harus penonton tahu bahwa cinta itu tidak selamanya indah. Jika dalam Before Sunrise mereka masih seperti dalam cerita dongeng yang penuh dengan keindahan, dan Before Sunset mereka mulai tumbuh dewasa dan mempertanyakan arti cinta, maka di Before Midnight, mereka berusaha untuk bertanggung jawab atas kehidupan yang mereka jalani, apapun konsekuensinya, susah atau senang, itulah yang harus mereka hadapi, karena cinta itu adalah tindakan bukan hanya sekedar perkataan.

I don’t know what to say anymore, kudos to Richard Linklater, kudos to Ethan Hawke, kudos to Julie Delpy yang berani tampil ‘ekstrim’ (makanya film ini tidak tayang di Indonesia juga), tapi justru paruh akhir di film inilah yang benar-benar krusial, bisa dibilang menyayat perasaan saya ketika menontonnya, saya seperti ingin ikut teriak dan menghentikan perdebatan mereka yang bisa berujung pada kehancuran, tapi disitulah jeniusnya, karena disitulah kita disuguhkan apa yang namanya realita cinta (tanpa rock n roll). Disitulah kita harus membuka mata, bahwa inilah cinta, cinta yang sudah berjalan selama 18 tahun dan bukan berarti selama waktu itu tidak pernah terjadi yang namanya keraguan bahkan kemarahan. Ya sebuah konklusi menyentuh dari perjalanan sepasang kekasih yang selalu diselimuti pertanyaan akan dibawa kemana rumah tangga yang sudah mereka bangun selama ini.

So, tunggu apalagi, anda harus segera menonton film ini. Masih dengan scoringnya yang minimalis dan sedikit pemandangan indah di Yunani yang tidak terlalu dieksplor lebih dalam, tapi adegan klimaks ketika mereka duduk berdua di kafe pinggir laut saya jamin akan membuat hati anda meleleh. Thank you Jesse and Celine, it’s been a great year for me. Sampai bertemu sembilan tahun lagi, semoga kalian masih tetap bersama dan bahagia selalu!

Rating: 5/5

3 comments

  1. Not really a fan of Before Series but can’t wait to see this one!

    Like this

    1. Nah itu dia, mungkin buat yg gak begitu suka dua film terdahulunya bakal nganggap yg ini biasa aja, tapi karena gw fans dua film terdahulunya jadi puas banget pas nonton pamungkasnya ini, hehe ;)

      Like this

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,299 other followers

%d bloggers like this: